Mengenal Lebih dalam Tentang Suku Sawang


Suku swang tahu arah tiupan angin yang memberi berkah, kapan panen ikan atau kapan musim terbaik untuk mendaratkan kapal sebelum nanntinya mengarungi lautan lepas lagi. Aslinya suku Sawang hidup di atas perahu bersama keluarga terdiri atas istri dan anak-anak. Total isi perahu lima hingga enak orang. Mereka hidup dari menangkap ikan, teripang, agar-agar dan kima. Selain untuk kebutuhan makan setiap hari, tangkapan itu juga untuk dipertukarkan dengan kebutuhan lain seperti gula jawa, sagu atau biji-bijian. Perahu dibuat sendiri oleh para penghuni perahu tersebut, yang sering kali disebut dengan jong, dilengkapi dengan panah dan jala sebagai alat menangkap ikan.

Suku Sawang memiliki siklus pengembangan tetap dalam setahun yakni dari Tanjunglabu di Bangka ke perairan sekitar Pulau Belitong atau sebaliknya, mereka berhenti di tempat-tempat persinggahan tetap yang dipilih karena letaknya teduh dan terlindung dari ombak dan badai, seperti teluk, suak (teluk kecil di sungai atau laut) atau muara sungai. Di tempat-tempat tersebut mereka berlabuh mendirikan gubuk untuk tempat tinggal sementara. Tidak jarang pelayaran hingga jauh ke wilayah Lampung atau Kalimantan Barat. Suku Sawang menganut kepercayaan dengan konsep dasar Animisme-Shamanisme yang meyakini hal-hal bersifat gaib, hari nahas, hantu, mambang dan peri serta kekhawatiran terhadap berbagai ancaman dunia gaib yang dapat merugikan. Di Bangka dan Belitong, orang laut punya sebitan suku Sang, suku Sekak dan suku Lanun.

Mereka tinggal di Bangka, Belitong, Kepulauan Riau dan pesisir barat Kalimantan. Berawal saat masuknya Spanyol dan Portugis ke Pulau Mindanao Filipina selatan pada 1521. Terjadilah perlawanan dari penduduk setempat dan tidak sedikit yang meninggalkan kampung halaman menuju Kepulauan Riau, Bangka dan Belitong. Kelompok mereka dinamakan berdasarkan asal-usulnya seperti suku Sekak dari Sakai di Filipinan dan Lanun dari suku yang menempati Teluk Lanoa di Filipina. Ketika pemerintahan Hindia Belanda di Batavia mengadakan pembasmian Hindia Belanda di Batavia mengadakan pembasmian perompak di Belitong pada 1838, Lanun yang sebelumnya ditakuti jadi hilang pamor, kemompok-kelompok besar terpecah menjadi kelompok-kelompok kecil tanpa daya. Sebagian dari mereka akhirnya pindah ke darat, jadi buruh kasar tambang timah Belitong sebaian lagi bertahan di laut hidup sebagai nelayan.

0 Response to "Mengenal Lebih dalam Tentang Suku Sawang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2